Bosen ya liat saya posting mulu? Uuu....kasian sekali anda, :3
Kemaren saya latian musikalisasi puisi looh..!
Jadi di kelas gue, lagi belajar tentang musikalisasi puisi (meh). dan dibikin delapan kelompok. Tiap kelompok isinya lima biji. Gue sekelompok sama si macho Diska, temen sebangku gue, Shinta, Dara, dan ketua kelas tengil, Agantha (Anak GHANteng bau TAi).
Dan, makasih banget buat bapaknya Agantha yang namain anaknya dengan huruf pertama "A". gue dapet giliran paling pertama. Kelompok satu.
Kami, seluruh kelompok satu (minus Agantha lah) menyalahkan semuanya ke Agantha (yang kesiannya adalah ketua kelompok).
"Agantha, kita harus buru2 gara2 nama lu depannya A sih!"
"Agantha, kita ga dapet bajaj gara2 elu, sih!"
"Agantha, kita harus kerja keras gara2 elu nih!"
"Agantha, gue ga ada duit, gara2 elu, tau!"
Kesian amat ya..
Oke, balik lagi ke topik awal.
Gue latian musikalisasi puisi di rumah gue. Jam setengah satu, gue berangkat buat jemput temen2 gue, soalnya kalo gue cuma kasih tau alamatnya, takut mereka nyasar. Bukannya ke Kemayoran, malah ke Bekasi. Kan ga lucu.
Di tengah jalan, diska sms.
"Udah sampe mana? gue udah kayak tikus got nih, lusuh."
gue jawab
"bentar, di angkasa macet."
hening sejenak. dia jawab lagi.
"Ahh, hujan, aku meleleh!"
Saat itu gue mulai panik. Mampus, mau ke rumah naek apa? kalo naek bis, ntar keujanan gimana?
Akhirnya, bokap pun
Dan, emang benar dugaan saya, kelompok satu isinya tukang ngaret semua. Janjian ngumpul jam satu. Jam satu, gue sama Diska baru dateng. Jam satu lewat dua puluh, Agantha dateng. Jam setengah dua lewat lima, Shinta dateng. Jam tiga, Dara baru dateng.
Saya hanya bisa mengelus dada.
Ke rumah gue, rencana mau naik bis, biar kesannya membumi, dan menghemat ongkos. Tapi yang lain pada ga setuju. "Udah, naek bajaj aja! Agantha duduk bareng sopirnya!" tiga suara lawan satu. Gue kalah. Gue ngalah, naek bajaj. Dan, tadinya gue kira mau naek bajaj bbg (yang biru itu loooohh), biar muat banyak, gataunya, malah naek bajaj biasa.
Dan bayangkan.
Bagaimana kalau tiga ikan buntal, satu ikan bandeng dan satu ikan pesut, dimasukkan ke dalam satu kaleng.
Itu yang gue rasain kemaren.
Gue, diska dan dara, sebagai ikan buntal, nyesek2an di dalem bajaj. Shinta duduk dipangku Diska dan dengkul gue, sementara Agantha duduk di depan bareng abang tukang bajajnya.
Buat nafas aja susah. Gue garuk dengkul dikit.
"Iiih, Iga, gelii!" kata Shinta. Gue jadi ngerasa kayak Oom2 yang melakukan pelecehan seksual di busway.
Sepanjang jalan, gue ga berani ngeluat keluar jendela. Orang-orang lewat pasti ngeliat kami dengan pandangan. Oh-mai-gat-sirkus-datang-ke-jakarta!
Dan bukan cuma itu yang bikin gue malu.
Agantha, yang duduk bareng sopir bajaj kayak anak-beranak, malah melambai mesra pada tiap orang yang lewat. menebarkan pesona pada tiap penjuru kota Jakarta.
"Haaaiii, semua!!"
bapak2 kumisan yang naek motor, geleng kepala ngeliatnya.
tukang rujak yang lagi nyuci gelas senyum ngeliatnya.
ibu2 gendong bayi mengelus dada dan menutupi bayinya dari pandangan laknat tersebut.
Dan gue menangis tersedu ngeliatnya, sambil dalam hati mengutuk keputusan gue buat masuk kelompok satu.
Akhirnya, setelah perjalanan panjang dan berat (di lutut gue, karena gue mangku shinta), dan penuh kemaluan (maksudnya rasa malu), kami tiba di rumah gue. Kesan pertama Agantha setelah terbebas dari peluk mesra sang sopir (yang membuang muka setelah gue bayar ongkos),
"badan sopirnya bau banget."
Kami pun terdiam, merenungi apa yang baru saja terjadi pada kami. Mungkin, telat sedikit saja, kami bakal mati kehabisan nafas.
Lanjut.
Gue dan yang laen akhirnya mulai latian di kamar. Gue yang ga ada kerjaan, kebagian megangin beras buat efek suara pasir. srrrr....srrr gitu.Shinta dan Agantha maen suling, Diska
Dan waktu latian kami yang cuma 2-3 jam tersita, karena jadi pada ngobrol (sementara gue sibuk nyari nada).
Jam lima, temen-temen gue memutuskan buat pulang. Tapi Agantha minta waktu bentar buat sholat. ya sudahlah, kami kabulkan. Gue diem aja, nungguin dia selesai solat. Tapi sepertinya, diska, shinta dan Dara ga mau tinggal diam.
Agantha solat, diska mulai beraksi. Dia goyang2in rambutnya. Agantha baca surat apaan tau sambil facepalm.
first try gagal.
Agantha mencoba untuk kedua kalinya. Udah sampe rokaat terakhir, tinggal salam. Shinta ngeluh sama gue, cincinnya ga bisa lepas. gue jawab dengan polos, "jari lo kayak sosis" tanpa niat menggoda si ketua kelompok. Agantha malah ketawa.
second try gagal.
Agantha mencoba untuk kedua kalinya. Karena gue takut dosa, gue diem aja, dan berusaha menghentikan Diska buat bikin Agantha batal lagi. Akhirnya, setelah perjuangan keras, Agantha dengan sukses menyelesaikan sholatnya.
Third try. Mission accomplished.
setelah sholat, Agantha bales dendam ke Diska. Sisa beras yang ada di lantai, dia lemparin ke rambutnya Diska sambil bilang, "lempar jumroh.". Diska pun memuncak emosinya,...dan mendorong Agantha ke tempat tidur. Agantha, tiba2 berteriak, "Diska, jangaaaannnn!!!!" dengan gaya uke. Semua terdiam (note: disini, sebenernya Agantha cuma becanda, tapi tetep aja geli).
Sebenernya, bapak gue bilang gini, "kalo temen kamu (agantha, cowok sendiri di kelompok), macem2 gebukin aja rame2, kan cewenya banyak!"
tapi sekarang gue ragu, seharusnya yang dikhawatirkan itu bukan kondisi kami para cewek, tapi Agantha. Apakah dia bakal keluar utuh apa nggak.
Setelah maen lempar jumroh, gue nganter anak2 keluar. Diska pulang duluan naek bajaj, disertai lambaian cinta (semua buang muka pas Diska ngelambe). Gue nungguin shinta, agantha dan dara dapet kendaraan pulang. Naek bajaj, pada trauma, naek taksi, taksinya pada songong, ga mau dinaekin anak2. Yaudah, kami nunggu sampe setengah jam-an. satu bajaj bbg dateng. Setelah meyakinkan agantha dia ga bakal duduk di depan, dan memastikan sopirnya ga bau, kami mulai tawar menawar.
"Bang, kwitang berapa?" tanya Shinta. Agantha udah megangin duit 20ribuan.
"30.000."
duitnya dimasukkin lagi ke kantong, dan kami pun membalikkan badan, mencari tumpangan laen. Pura-pura ga pernah mengenal si tukang bajaj.
Akhirnya, ketiga bocah itu memutuskan buat naek taksi. alesannya, "biar sekalian mahal aje. ngapain naek bajaj mahal2."
Disertai deru mesin taksi, dan asap, kami berpisah..Gue niatnya pengen pulang, nulis blog trus tidur, ternyata gue malah disuruh ikut nemenin eyang gue belanja (meh). sesuatu yang gue ga terlalu suka, dan ga perlu ditulis disini.
Melelahkan ya? Baca aja udah capek, apa lagi gue nulisnya.
Oh iya, siapapun yang baca blog gue, tolong isi poll gue tentang popsicles. Gue butuh, nih.
This lil' guy need some advice from you for his favorite popsicle
Nuuuuuu, help him please??? :3 iya, gue bikin poll emang buat memutuskan rasa favorit buat OC gue, jadi plissss....isi!
Thankiee~!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar