Requestnya Nadya Aulia Marzis, cerpen. Gue bikinnya sal, jadi gapapa yo, nad! :D
KISAH CAMAT DAN GEMBUL
Pagi ini cerah sekali. Matahari bersinar terik, dan tidak ada awan sama sekali. Setiap orang yang melewati lapangan sekolah harus menutupi matanya dengan tangan saking terangnya. Ya, cerah sekali, dan panas.
Kelasku 93, berisik sekali. Ah, biasa. Kalau guru belum datang, 93 bisa dibandingkan dengan kebun binatang saking bisingnya. Dan aku, adalah salah satu individu yang berperan besar dalam keributan-keributan yang selalu terjadi di 93. Gimana nggak? Aku dan temanku, si Gembul alias Gema, suka sekali membuat keributan. Kami sering berduet bersama dengan code name: CABUL. Eits, cabul yang dimaksud disini bukan yang erotis-erotis kayak Ariel Peterporn lho, ya! Tapi, maksudnya CABUL itu gabungan dari dua kata: CAMAT dan GEMBUL. Di sekolahku, orang-orang memanggilku dengan sebutan Camat, karena aku memakai kacamata dan suka makan mi goreng (apa hubungannya ya?), sementara yang BUL nya itu diambil dari nama panggilan Gema, GEMBUL. Kenapa Gembul? Karena eh, karena, perutnya Gema itu six pack. Hei, maksudnya six pack itu, enam lapis lemak! Alias buncit! Makanya dipanggil Gembul.
Keren ya?
Iya dong, CABUL gitu!
Oh iya, namaku Nadya Aulia Marzis. Nama panggilanku Aul. Aku siswi di SMP negeri 5 Jakarta. Gimana? Sekolahku keren kan? Iya dooonggg, orang-orang Jakarta tidak ada yang tidak tahu SMP negeri 5. Apalagi tukang bajaj, beuuhh! Apal deh!
Lanjut.
Pagi ini memang panas banget! Sampai-sampai aku jadi males keluar kelas saking panasnya. Jadi, karena amalas keluar, ga ada guru, dan hormon masa remajaku bergolak, memaksaku untuk bergerak tanpa arah, aku pun bangun dari kursiku dan mengajak Gema berduet.
“Gema, yuk kita melakukan pencabulan!” ajakku pada Gema, yang kelihatannya sedang asyik menceritakan cerita-cerita ga bener pada anak ga berdosa.
Oh iya, buat yang pikirannya udah ngeres, nih, pencabulan itu maksudnya, kegiatan-kegiatan yang rutin dilakukan kami, CABUL. Seperti menyanyi, mengejek teman-temanku yang bernasib malang, atau striptease. Eeh, nggak deh, joget maksudnya. Kan nggak mungkin seorang Aul menari striptease! Soalnya di sekolahku ga ada tiang besi, sih, masa mau nari di tiang bendera? Ga lucu! Nanti disangka tuyul kan gawat.
“Pencabulan?? Ayok, mau ngapain nih, jadi??” tanya Gema bersemangat.
“Ngapain aja, nyanyi bareng yuk!” kataku. Gema pun mengangguk setuju. Lalu kami berjalan ke depan kelas.
Kemudian, kami mulai menggoyangkan pinggul sambil menyanyi.
“caught in a bad romance…”
“caught in a bad romance…”
“Rah-rah-ah-ah-ah”
Kami bernyanyi sambil menggoyangkan seluruh tubuh. Tangan, leher, pinggul, bahkan jempol kaki. Hampir seluruh kelas menyaksikan kami, dua makhluk dari planet Mars.
“Aul, lo gila, ya!” teriak Feli histeris sambil tertawa.
Ya, aku tahu kok, Feli memang ngefans dengan kami. Ia salah satu penonton setia pencabulan CABUL.
Ya, kami terus berjoget dan bernyanyi, sementara teman-teman kami menonton dengan berbagai ekspresi. Ada yang menjerit-jerit histeris, ada yang muntah, ada yang beristighfar, dan ada yang ngupil. Kuakui, penampilan kami memang luar biasa.
Pagi yang panas itu, jadi semakin panas dengan adanya penampilan kami. Mungkin, lady gaga pun akan semaput melihat goyangan kami.
********
Setengah jam kemudian, aku dan gema terpaksa mengakhiri penampilankami, karena bel tanda pergantian pelajaran sudah berbunyi. Sekarang pelajaran IPA, dan guru kami, bapak Edi ga akan mentolerir bila ada yang dateng telat ke lab IPA. Jadi, kami buru-buru mengambil buku-buku dan perlatan yang diperlukan, dan berlari menuju lab.
Di dalam lab, Pak Edy sudah duduk manis menunggu. Kata temanku, Iga, cara duduknya Pak Edy lucu, seperti duyung. Aku tertawa melihatnya, lalu aku membisiki Gema. Si Gema malah tertawa. “Ahahahaha, Pak Edii! Kata Aul bapak duduknya kayak duyuuunggg!” Uuuh, si Gema ini! Cowok-cowok kok mulutnya bawel! Duh, kadang aku suka bingung, Gema itu cowok atau cewek, kalo cowok, kok mulutnya bawelll banget, seperti cewek. Tapi kalo cewek, kok serem sih?
Aku pun buru-buru mencubit Gema sebelum Pak Edy melihat aku masuk ke ruang lab. Bisa gawat kalo nanti aku ditimpuk pakai cawan petri.
Kemudian, aku duduk di kursi dan mengikuti pelajaran dengan agak tekun. Tapi, aku tidak bisa berkonsentrasi, sebab si gembul Gema yang duduk di belakangku kerjaannya ngobroooooolll terus. Aku jadi ga bisa konsentrasi, apalagi dia malah nyanyi yang aneh-aneh.
“Udin…udin…udinnya petot…udara dingin pengennya…”
Duh, Gema!
Tawaku tak tertahan lagi, aku ngakak. Untungnya, hari ini praktek. Anak-anak lain dan Pak Edy lagi sibuk ngobok-ngobok aquarium ikan buat praktikum seleksi alam, jadi tidak ada yang sadar, aku tertawa.
Kemudian, kami melanjutkan pelajaran lagi. Si Gema asyik sekali menyodok-nyodok ikan di aquarium dengan thermometer.
“Iiih, Gema, kan kasian!” ucapku sambil memegangi tepian aquarium.
“biarin, kan disodok-sodok biar enak!” kata Gema.
“Iih, apaan sih ngomongnya! Jorok lu! Kataku sambil sekali lagi, mencubit lengan gempal Gema.
Gema itu memang mesum. Pikirannya tidak jauh-jauh dari hal-hal seperti itu. Disodok-sodok lah, diremes-remes lah, aku aja ga ngerti dia ngomong apa. Dia juga bawel, kalo teriak ga tau tempat dan waktu. Memang aneh, ya. Dia memang aneh kok, mukanya aja aneh. Tapi itulah daya tarik Gema, dia tidak malu mengutarakan pendapatnya. Dia kocak. Dia selalu bisa membaut orang tertawa.
Aku heran, kenapa sebagian besar cewek memandang Gema sebelah mata, padahal dia baik. Dia sahabat yang baiiiiiikkk sekali. Enak buat diajak curhat.
Gema memang sahabatku. Kami cukup dekat, karena kami terjebak di kelas yang sama selama 2 tahun. Sewaktu kelas 8, kami tidak terlalu dekat, ngobrol sih, Cuma tidak sedekat sekarang. Sekarang kami kelas 9, entah kenapa kami jadi sering ngobrol. Kami jadi jauh lebih dekat dari sebelumnya. Dan sepertinya, mulai ada perasaan yang tumbuh di hatiku..
“caught in a bad romance…”
Gema mulai menyanyi lagi.
“Yee, Gema, lu nyanyi lagi!” ujarku sambil mencolek pipinya yang seperti anjing bulldog.
“Rah-rah-ah-ah-ah”
Eh, kok tanpa sadar aku jadi ikutan nyanyi. Ya sudahlah, lanjutkan saja. Duet CABUL pun berlanjut. Kali ini, seluruh mata memandang kami, termasuk gurunya dan para ikan.
Dan aku bisa melihat…Pak Edy mengelus dada melihat kelakuan kami.
Maaf, ya, pak. Kami memang terkutuk.
Usai pelajaran IPA, kami kemabli ke kelas. Aku sedang memakai sepatu, dan Gema masih di dalam kelas. Temanku, Ista tiba-tiba bertanya begini padanya,
“Gema, lo suka ya sama Aul?”
DEG. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Aku buru-buru merapatkan telinga pada pintu lab, entah kenapa aku penasaran dengan jawaban Gema.
“Iya. Gue suka sama Aul.”
Tiba-tiba wajahku terasa panas. Jantungku berdegup sangat kencang. Gema suka padaku? Ada rasa gembira menjalari tubuhku.
“sebagai teman.”
Dan tiba-tba rasa gembira itu lenyap. Aku langsung lesu. Rasanya aku ingin menangis. Aku langsung lari ke kelas.
Di kelas, aku duduk menelungkup, tidak peduli meski teman-temanku memandangku dengan pandangan heran. Aku terus diam. Tak terasa air mataku menitik.
Tanpa kusadari, Gema sudah duduk di kursi di depanku. Dia berbisik padaku, “Aul, lo nangis? Kenapa?”
“Tau ah Gema! Gue benci sama lo! Uuuh, pergi sana! Badan lu bau ikan!” teriakku.
“ya emang gue abis ngobok-ngobok ikan! Kalo gue ngobok-ngobok ikan bau tai baru aneh!” kata Gema membela diri. Tapi aku tetap mendorongnya menjauh. Aku benar-benar tidak berminat untuk bercanda dengannya sekarang. Aku benci sama Gema!
*********
Bel istirahat.
Aku dan teman-temanku, Diska, Ajeng, Caca, Tia, dan lainnya duduk di depan kelas dan makan. Ada aturan di SMP 5 yang melarang makan di dalam kelas. Iiih rese! Bilang aja penjaga sekolahnya pengen tau kita-kita makan apa!
“Aul, gema tuh!” kata Tia menggodaku.
“Apaan sih, Ti!” ucapku dengan mulut penuh mi goreng. Aku sedang sebal dengan Gema, jadi kalo ngeliat dia sambil makan rasanya pengen muntah.
“kan solmet lo, ul!” goda Ajeng.
Aku hanya menggeleng. “Siapa tuh, ga kenal!”
“cieee, Gema!” kata Feli, yang sedang duduk agak jauh dari tempatku duduk.
“Gemanya kok ga disuapin??” kata Iga menimpali Feli. Uuh, kalau aku tidak sedang lapar, anak itu udah kulempar mangkok mi!
“Apaan sih, najis gue punya temen kayak Gema! Mukanya abstrak! Ga sudi gue!!!” teriakku kesal. Eeeh, pas aku teriak, si Gema lewat. Dia berhenti, lalu memandangku sejenak.
Aku menunduk, tidak berani memandang matanya.
Dia kemudian berkata dingin, “hai aul.”
Lalu melangkah pergi.
Hanya kata itu saja. Dan dari nada suaranya, orang akan mengatakan dia benci padaku.
Apa aku sudah melakukan kesalahan?
********
Setelah kejadian pas istirahat itu, aku jadi menjauhi Gema karena takut. Gema sudah berulang kali mengajakku berbicara, tapi aku tidak menanggapinya. Takut iya, sebal juga iya. Akhirnya hingga bel pulang, kami tidak bercanda seperti biasanya. Kasihan fansku, CABUL tidak beraksi hari itu.
Ketika aku sedang berjalan menuju gerbang sekolah, aku melihat Gema. Ia menoleh padaku, dan melambai riang seperti badut. Aku buru-buru membuang muka dan lari. Ya iyalah, aku kan sedang marah, masa ikut melambai!
Sebenarnya, aku agak merasa bersalah dengannya. Huh! Tapi buat apa minta maaf! Gengsi dong! Tapi kalau dia marah gimana dong?
Akhirnya, pikrianku dipenuhi oleh Gema. Seharian, aku tidak bisa berpikir jernih. Perasaanku campur aduk tidak karuan, seperti mukanya Gema.
Kenapa aku marah pada Gema?
Sepertinya itu karena dia bilang dia menyukaiku sebagai teman.
Tapi bukankah kami memang teman? Sebenarnya aku berharap dia bilang apa?
Apa…aku menyukainya?
************
Esok harinya, masih seperti kemarin, aku tetap tidak mau bercanda dengannya. Dia berulang kali menanyakan kenapa aku marah, berusaha membuatku menceritakan semuanya padanya. Tapi aku hanya diam, berusaha tak menggubrisnya.Aku kesal. Kenapa dia tidak menyadari dengan sendirinya? Kenapa dia menunggu aku untuk mengatakannya? Gema bego!
************
Hari berikutnya, Gema tidak masuk. Tidak ada kabar. Ada gossip yang mengatakan, getek yang ditumpanginya tenggelam karena menabrak gunung es. Ada juga yang bilang, Gema diculik dan dijual ke Eropa untuk ikut sirkus keliling. Bahkan, ada yang bilang, sebenarnya Gema adalah alien yang dikirim dari planet pleketek-ketek untuk memata-matai bumi, dan sekarang kembali ke planetnya.
Tapi satu-satunya keterangan yang ditulis hanya “SAKIT”. Aku sendiri tidak tahu dia sakit apa. Aku jadi merasa waswas. Bukan hanya karena ia temanku,tapi juga karena ia belum bayar utangnya padaku beberapa hari yang lalu.
Teman-temanku banyak yang bertanya padaku kenapa Gema tidak masuk.
“Mana gue tau? Emang gue emaknya!” ucapku ketus ketika Vita menanyakan si bocah gemuk. Dalam hati aku juga bertanya-tanya, bagaimana keadaannya. Kalau dia kena demam Sumatra dan sekarat seperti Sherlock Holmes bagaimana??
Tapi aku tetap tidak menghubunginya. Rasanya gengsi.
*********
Hari demi hari berlalu, sudah empat hari Gema tidak masuk.
Guru Bahasa Indonesiaku, Bu Anggi bertanya padaku,
“Aul, Gema kemana?”
“Saya ga tau, bu.” Jawabku tanpa menoleh dari buku yang sedang kutekuni.
“Lah, kok begitu? Kamu kan sahabatnya.” Ucap Bu Anggi lembut. “kenapa kamu bersikap seakan tidak peduli begitu?”
Aku terdiam.
“Tau lo, aul! Tega lo sama Gema! Sahabat kok kejem amat!”
Caca menimpali. Aku tetap diam. Tidak tahu harus berkata apa. Tiba-tiba aku menyadarinya. Aku ini egois. Aku sudah berkata kasar pada Gema, aku juga sudah bersikap dingin padanya. Gema pasti membenciku sekarang!
Badanku langsung lemas, bingung mau ngapain. Aku benar-benar merasa bersalah. Sedih, dan marah pada diriku sendiri. Aku ingin berlari dan minta maaf padanya. Tapi aku sadar, aku tidak mampu.
Jarak dari SMP 5 ke Ancol kan jauh. Kalo gue lari, bisa gempor gue.
Malamnya, setelah menyiapkan hati dan pulsa, aku mengirimkan sms pada Gema.
"Gema, kenapa lo ga masuk sekolah? Lo sakit apa?"
tak lama, Gema mengirimkan balasan.
"Gue sakit. Demam"
Aku tertawa, aku kaget gema bisa sakit. Kemudian, aku mengirimkan balasanku,
"Kok lo ga ngabarin gue sih? Gue kan khawatir!"
agak lama sebelum dia mengirimkan balasan. Aku jadi makin khawatir. Akhirnya, Gema mengirimkan balasannya,
"khawatir? Gue kira lo udah ga nganggep gue sebagai temen lo."
Aku tersentak menatap deretan huruf di layar hapeku. Buru-buru aku mengetik dan mengirimkan balasanku,
"Ya allah, Gema! Lo dikasih obat apaan sama dokter lo sampe mikir kayak gitu?"
Tidak sampai 5 menit, aku sudah menerima balasan darinya,
"Gue serius. Kemarin, lo sama sekali ga negor gue. Gue ajak ngobrol juga lo ga respon. Lo ga ngasih tau gue kenapa lo marah sama gue."
Aku terdiam, tidak tahu harus menulis apa. Kuletakan hapeku dan menatap langit-langit kamarku. Aku harus bilang apa?
Lalu, Gema mengirimkan sms selanjutnya,
"Aul, tolong kasih tau gue kenapa lo marah sama gue? Gue janji, gue ga bakal marah sama lo. Gue cuma mau jadi sahabat lo aja,"
Aku menghela nafas, lalu memberanikan diri mengetik balasanku. Aku menulis, tentang percakapan antara ia dan Ista.
Lalu, di akhir sms, aku menulis,
"Kayaknya gue suka sama lo, Gema."
Balasan yang selanjutkan, memakan waktu cukup lama, sampai aku sempat ke kamar mandi dan pup dulu. Ketika aku kembali, Gema sudah mengirimkan balasannya.
"Jadi kita jadian nih?"
Aku tertawa, sampai keluar air mata. Dia terang-terangan sekali. Aku tersenyum, lalu menulis balasanku,
"Lo mau sama gue?"
Kemudian, balasan Gema selanjutnya membuatku meloncat kegirangan dan berteriak keras sekali, sampai ibuku datang dan menendang pintu kamarku sambil marah-marah.
"Yaudah. Oke, kita jadian."
***********
Entah bagaimana ceritanya, keesokan harinya, ketika aku tiba di sekolah, teman-temanku langsung mengejekku. "Gema! Gema, cieee!!" sambil melantunkan melodi lagu pernikahan. Yang tetet teret itu looh.
Hari Gema juga sudah masuk sekolah. Ia tersenyum lebar padaku.
:Hai, car!"katanya.
"car?" tanyaku heran/
"car itu dari kata Pacar! duh, dasar camat!" katanya.
"Oh, hahhhaa, macem-macem aja lu, Gema!" ucapku sambil tertawa.
Teman-teman sekelasku mengejek kami lagi.
Aku tersenyum lebar. Gema menarik tanganku. "Ayo,car, kita Mencabuli anak-anak ini!"
"Ayok deh!" kataku riang, dan kami pun berjalan beriringan.
dan CABUL pun kembali lagi.
dan kali ini...kami benar-benar berduet. Sebagai pasangan... :)
Assalamu alaikum....
BalasHapussalam kenal ^^!
wa'alaikumsalam. ya, salam kenal juga :3
BalasHapus